Empat Fakta Menarik Mengenai Pangkalpinang Di Mata Saya

Pesonapangkalpinang
Pemandangan dari atas Rumah Pengasingan Bung Karno di Muntok (dok Pribadi)

Pertama menjejak kaki di Kota Pangkalpinang ini pada tahun 1993, masuk melalui Ferry dari Palembang Sumatera Selatan. Pada saat itu Pangkalpinang masih menjadi bagian dari Propinsi  Sumatera Selatan belum menjadi Propinsi sendiri seperti sekarang ini.Waktu itu Pangkalpinang belum seramai seperti sekarang ini, banyak hal yang menjadi kenangan di tahun 1993 ini, pertama baca koran harian di atas jam 12 siang setelah pesawat pertama mendarat dari Jakarta. Kedua, pertokoan tutup menjelang jam 4 sore, dan yang terakhir hiburan saya waktu itu menunggu reduksi telepon pukul 21.00 untuk memberi kabar kepada keluarga di Seberang sana. Ini rangkaian perjalanan saya menjelajah Sumatera, mulai dari Sumatera Barat, Sungai Penuh, Jambi, Palembang dan terakhir menjejak di Pulau Bangka.

Pada tahun 2016 ini, Allah takdirkan kembali saya bisa menjejak Pangkalpinang untuk bisa eksplor lebih dalam lagi tentang potensi Pesona Pangkalpinang, baik itu wisata sejarah, alam bahkan kuliner. Banyak sekali perubahan yang saya rasakan jika dibandingkan dengan tahun 1993. Perubahan yang sangat cepat sekali di Pangkalpinang.

Pangkalpinang memang belum menjadi destinasi utama wisata di Indonesia, namun potensi pariwisatanya sangat lengkap sekali dari mulai, alam, budaya, kuliner dan masih banyak lagi yang bisa di eksplor. Justru karena belum begitu ramai, maka sangat tepat sebagai alternatif wisata di Indonesia ini. Ada yang mengibaratkan bahwa Pangkalpinang sekarang itu sana seperti Bali pada tahun 1980an sehingga masih sangat nyaman untuk menikmati berbagai destinasi wisata di Pangkalpinang. Dan ke depan akan menjadi salah satu andalan wisata di Indonesia. Aamiin

Ada wisata Sejarah di Pangkalpinang

Pesonapangkalpinang
Rumah Pengasingan Bung Karno di Munyok (dok Pribadi)

Berbicara Indonesia, tidak lepas dari peran Bung Karno dan Bung Hatta. Muntok pernah menjadi bagian hidup dari Bung Karno dan Hatta sekitar tahun 1948-1949. Alhamdulillah tahun ini saya berkesempatan menyaksikan bukti salah satu sejarah Indonesia yang berada di Muntok Bangka Barat. Selain wisata pesisir dan kuliner di Bangka juga ada beberapa destinasi budaya dan sejarah. Salah satunya adalah Giri Sasana Bukit Menumbing, yang berada di Muntok Bangka Barat.

Bayangan saya menerawang ke tahun 1948-1949 ketika berada di lokasi ini. Tempat terpencil di atas bukit, listrik terbatas, akses kendaraan terbatas. Memang sepertinya tempat yang tepat untuk pengasingan. Namun sisi lain pemandangannya sangat indah pantai dan langit biru cerah terlihat dari atas rumah.

Mobil dinas, Ruang Kerja dan Tempat Tidur Bung Karno di Bukit Menumbing (dok pribadi)
Kesan pertama terhadap rumah ini adalah sangat terawat sekali dan bersih. Semua yang ada di rumah ini terawat dengan baik. Sehingga saya bisa merasakan bagaimana situasi saat itu. Di ruang utama ada meja dan kursi membentuk huruf U, mungkin ruangan ini untuk rapat. Selain itu juga ada foto foto tokoh Indonesia.

Sebelum masuk kamar tidur Bung Karno ada ruang kerja lengkap dengan meja dan kursi. Di ruang ini banyak sekali foto foto sejarah. Di kamar tidur terdapat dua dipan dan lemari pakaian. Di antara dipan ada foto Bung Karno. Wanita yang sedang haid menurut penjaga rumah ini tidak diperkenankan untuk masuk kamar ini, entah apa alasannya.

Setelah puas melihat interior dalam rumah, saya bersama rombongan naik ke atas rumah, karena tidak menggunakan genting. Semua atap di cor, mungkin sengaja untuk bisa menikmati pemandangan Bangka. Di atap rumah tiap sudut berkibar Sang Merah Putih, ini menandakan bahwa bangunan ini mempunyai nilai sejarah bagi bangsa Indonesia.
Dari atas ini bisa melihat keindahan Bangka, dengan henbusan angin yang cukup kencang.
Langit saat itu sangat cerah, biru langit berpadu dengan putihnya awan.

Video tentang Bukit Menumbing bisa di lihat di Channel Dudi Iskandar di Youtube.

Tradisi Ceng Beng

Gubenur Bangka Belitung sedang menerima penjelasan mengenai Cenbeng (dok pribadi)

Ceng Beng adalah tradisi dari masyarakat etnis tionghoa yang tiap tahun jatuh pada tanggal 4 April. Ceng Beng atau Qing Ming yang punya arti bersih dan terang. Semua etnis tionghoa yang berasal dari Pulau Bangka yang berada di perantauan di wilayah Indonesia ataupun Luar Negeri seperti Hongkong, Singapura, RRC bahkan Eropa akan pulang kampung dan datang ke pekuburan Sentosa di Pangkalpinang untuk menghormati arwah para leluhur.
Sebelum puncak acara Ceng Beng, diawali dengan membersihkan dan memugar kuburan. Menurut Aseng (39) yang di temui sebelum puncak acara, selama 10 hari dia sudah membersihkan kurang lebih 50 kuburan di pekuburan Sentosa untuk puncak perayaan Ceng Beng tahun ini.

Pesonapangkalpinang
Aseng (39) seorang pembersih kuburan di Pekuburan Sentosa Pangkalpinang (dok pribadi)

Yang di bawa biasanya ada tiga jenis makanan, yang pertama Sam Sang ( Tiga Jenis daging), kedua Sam Kuo ( Tiga Macam Buah buahan ) dan yang terakhir adalah Cai Choi (sayuran).

Tiga sajian CengBeng di Paithin (dok pribadi)

Yang dilakukan biasanya adalah menyalakan lilin di seputar kuburan dan membakar Hio (Garu) dan meletakan Kim Chin (uang palsu kertas) di atas tanah kuburan, berharap arwah leluhur bisa tenang di alam sana.

Video Ceng Beng 2016 di pekuburan Sentosa Pangkalpinang bisa di lihat di Youtube saya.

Wisata Kuliner

Pak Muis teman Ngopi di Pangkalpinang (dok pribadi)

Masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kopi. Sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Akan dengan mudah kita temukan kedai kopi di Indonesia.Membahas makanan tidak akan pernah habis, makanya saya bahas saja tentang budaya ngopi di Pangkalpinang ini.
Masyarakat Bangka siang dan malam banyak berada di kedai kedai kopi untuk sekedar ngobrol dan mendengarkan curcol. Di Pangkalpinang saya menemukan sebuah kedai kopi yang banyak sekali dikunjungi saat pagi hari  oleh berbagai lapisan masyarakat di sana. Tidak terbatas dari yang muda hingga yang tua, pria maupun wanita, miskin maupun kaya, semua berbaur tanpa sekat-sekat pembatas. Dengan secangkir kopi tercipta keakraban di kedai ini tanpa melihat atribut maaing masing.
Memang selama ini saya belum pernah mendengar komoditi kopi dari Bangka. Namun pernah baca tentang budaya ngopi di Bangka yang di bawa oleh para pegawai tambang timah dari daratan Cina.

Saya pernah nongkrong satu pagi  di Warung Kopi Akhew yang sudah berdiri sekitar 1969-an di Pangkalpinang. Saya bersama Bang Udin dan Cahyanto sempat menikmati ngopi bersama warga. Ada yang sehabis olahraga langsung ke warung ini tanpa pulang ke runah dulu. Ada juga yang sengaja datang langsung dari rumah sebelum melanjutkan ke tenpat bekerja.
Pagi itu kami ikut terlibat dalam obrolan dengan beberapa pelangan kopi Akhew. Dan paling lama ngobrol dengan Pak Muis (69) seorang pensiunan yang banyak cerita tentang hidup di masa sakit stroke. Dari cerita beliau yang sembuh dari kelumpuhan selama dua tahun lamanya. Hampir tiap hari mampir ke warung kopi ini. Bukan sekedar menikmati kopi namun ada yang lebih dari itu, bisa mendengarkan cerita orang dan bisa bercerita ke orang sehingga beban yang ada di pikiran bisa lepas. Bahasa psikologinya mah katasis tea.
Jadi bukan kopi yang menyembuhkan strokenya, namun melepaskan beban pikiran itu yang membuat pikiran tenang. Hampir 45 menit bercerita tentang kisahnya ini, beliau sangat antusias sekali. Dan menceritakan bahwa  kemarin datang, ke warung ini Bapak  Gubernur dan Walikota sarapan di sini ujar Pak Muis. Warung kopi ini memang ramai antara pukul 8 -9 pagi di saat waktu sarapan.

Kamipun mendapatkan pelajaran kehidupan dari warung ini yang akan kami bawa pulang ke Jakarta. Semoga kearifan lokal seperti ini tetap terjaga.

Bisa dikatakan, kopi ibarat nafas bagi orang Bangka yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Vlog tentang Kopi Akhew bisa di tonton di youtube.

Pewaris Budaya Melayu

Mirza (5) seorang musisi Melayu sang pewaris Budaya (dok pribadi)

Satu kesempatan saya pernah di undang dalam acara ramah tamah bersama Walikota Pangkalpinang Bapak M Irwansyah dalam jamuan makan malam.

Suasana ramah tamah sangat cair tidak terlalu banyak seremoni. Sebagai pembuka acara ditampilkan Tari Pinang 11 khas Melayu. Yang menarik perhatian saya adalah para pemain musiknya justru bukan penarinya. Karena ada dua orang anak kecil yang turut memainkan salah satu alat musik yang mengiringi tarian. Yang terkecil adalah Mirza (5) menjadi pemusik yang tampil saat itu. Dengan lincah tanpa ada rasa malu, Mirza memainkan alat musiknya. Saya perhatikan saya bersemangat sekali dalam bermain musik.

Salut saya melihat penampilan Mirza, anak kecil sudah tertarik dengan budaya sendiri dan ikut melestarikan budaya. Di sela sela istirahatnya diam diam Mirza juga serius melihat penampilan tari Campak seakan ingin larut dalam tarian itu. Selama tarian Campak, saya perhatikan Mirza sangat antusias melihat para penari di atas panggung.

Melihat penampilan malam itu, saya yakin kesenian melayu sudah mempunyai satu penerus yang akan mengembangkan Budaya Melayu dan mencintai budayanya. Semoga akan lahir Mirza Mirza yang lain dari tanah Sebalai Serumpun.

Penampilan Mirza bisa di lihat di sini.
Itulah beberapa fakta yang menarik tentang Pangkalpinang dalam saya, semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi bagi yang membacanya. 

Tulisan ini diikutkan dalam #pesonapangkalpinang.
Jakarta, 6 September 2016

Kang Dudi

Advertisements

4 thoughts on “Empat Fakta Menarik Mengenai Pangkalpinang Di Mata Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s