Mata Air Adalah Sumber Kehidupan

image

Film yang bercerita tentang Lingkungan Hidup sangat jarang sekali. Ully Sigar Rusadi saja memimpikan film bertemakan ini selama 30 tahunan. Dalam rangka hari bumi 2016, hadir sebuah film tentang Linkungan Hidup dengan tema My Journey : Mencari Mata Air.
Mata air adalah sumber kehidupan bagi manusia yang harus di rawat untuk anak cucu kita selanjutnya.

Jumat (22/4) Gala Premiere My Journey : Mencari Mata Air bertempat di Epycentrum XXI, film yang di dukung oleh Empat Kementrian ini mulai tayang di Bioskop kesayangan anda. Film yang di gagas oleh Ully Sigar ini untuk memberikan proses edukasi kepada anak anak khususnya tentang lingkungan hidup. Khususnya mata air yang semakin berkurang jumlahnya di negeri ini.

image

Film ini sangatlah cocok untuk eduakasi ke anak anak mengenai Lingkungan Hidup, terlebih tokoh sentral dalam film ini anak anak remaja yang fokus ngurus mata air. Film ini sudah meraih di Festival Film Internasional, diantaranya adalah :
1. Hollywood international Moving Picture Film Festival, USA, Maret 2016.
Winner Cinematography: Fahmy J. Saad.
Winner Music Score: Didit Saad.
Winner Foreign Feature Film.
2. Official Selection, Cordoba International Film Festival, Colombia, April 2016.
3. Official Selection, Kids First Film Festival, USA, April 2016.

image

Review Film My Journey Mencari Mata Air

Secara keseluruhan penonton dimanjakan dengan suguhan pemandangan Indonesia yang sangat kaya. Mengambil lokasi syuting di beberapa wilayah Indonesia. Cerita berawal dari 5 orang remaja yang sedang mencari mata air. Sungguh mata ini sangat dimanjakan dengan indahnya Indonesiaku.
Orang pergi ke gunung sekarang terkadang banyak meninggalkan sampah, sehingga akan mengurangi keindahannya.

image

Akhirnya mereka memutuskan untuk jalan kaki mencari mata air itu dan meninggalkan supir yang antar. Di tengah perjalanan menuku mata air mLucas mengalami jatuh ke jurang. Akhornya sang sopir yang menolong mereka.

Ditengah perjalanan bertemu dengan Ki Barja seorang warga desa adat yang konsern terhadap pelestarian hutan.  Selain bertemu Ki Barja, bertemu Maya seorang peneliti tentang Capung. Jika ada capung berkeliaran bahwa di sana ada mata air bersih. Sebuah pelajaran dari capung. Akhirnya Ki Barja yang mengantarkan Chinta dkk ke neneknya di Desa adat yang sering di sebut sebagai Bunda Ully. Nenek Chinta merupakan pengerak di desa adat ini, yang mempertahankan lingkungan hidup.
Mata air di dunia dan negeri ini sudah berkurang dari waktu ke waktu. Bunda Ully dan masayarakat adat ingin menemukan sumber mata air yang bisa di jaga kemurniannya. Memang tidak mudah untuk menemukan mata air, namun bukan juga sesuatu yang mustahil. Akhirnya relawan menemukan telaga yang masih murni.

Kami menjadi Penjaga Bumi selamanya.

Catatan lain adalah antara setting desa adat dan lokasi syuting yang beda propinsi sangat menganggu sekali menurut saya.

Jakarta, 26 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s