Menikmati Malam

image

Menikmati malam hari di Baduy yang tidak ada penerangan sama sekali sangat berbeda sekali.Hanya berbekal lampu senter, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh orang kota yang terbiasa dengan penerangan apalagi gadget yang membutuhkan listrik. Akankah mati gaya?
Masih banyak cara untuk menikmati malam disana. Selepas sholat magrib dan isya, Pakdhe Ikmal mengeluarkan Ipad-nya rencana akan membuat tulisan, namun melihat Mang Naldi dan kawan kawan. Akhirnya membuat foto, dengan bantuan sofware diutak atik wajah mereka dengan ditambahkan kumis dan jengot di fotonya. Meledak tawa mereka ketika Sarnata dibuatkan kumis oleh Pakdhe Ikmal.
“Budak leutik kumisan” seru Mang Naldi
Terlihat berbinar di wajah mereka, menikmati malam bersama gadget. Rasa keiingintahuannya sangat besar.
terbahaklah mereka melihat wajah-wajah mereka jadi berubah ada yang berkumis, jengot, dll.

Bintang diluar sana bertaburan menemani kita menuju pembaringan. Malam terus berlalu, gelap menyelimuti perkampungan Baduy Luar ini. Seakan waktu berputar lebih lama dari biasanya. Pertemuan dua budaya yang berbeda latar belakang, bisa larut dalam kegembiraan bersama melalui sebuah foto. Semua tertawa lebar menikmati malam itu. Foto menjadi bahasa yang universal, walau berbeda bahasa namun tetap bisa dimengerti oleh keduabelah pihak.

Bahagia itu sederhana,

Jakarta, 29 Januari 2015

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s