Sekali Berarti, Sudah itu Mati

Mengenal pertama kali kalimat “sekali berarti sudah itu mati” dari pertunjukan Penghuni Kapal Selam. Namun ternyata kalimat itu penggalan dari puisi Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro.
DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Chairil Anwar, Februari 1943)
Budaya,Th III, No. 8 Agustus 1954

Kalimat sederhana, namun mempunyai makna yang dalam. Seperti kata ustadz Cahyadi Takariawan “kewajiban kita mengisi dan menghabiskan dengan nilai dan jiwa mulia.” Akan di isi seperti apa hidup kita? Berarti untuk siapa?

Hari ini dan hari esok adalah perjalanan usia. Perjalanan mengisi hidup berarti. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda, namun karya karyanya sampai saat ini tetap menginspirasi bagi penikmatnya.

Sekali berarti, sudah itu mati

Yuk sobat mari kita isi hidup kita dengan berkarya, semoga karya karya yang dihasilkan bisa menginspirasi orang untuk berbuat baik. Sehingga bisa menjadi bekal kita di alam kubur. Amal sholeh kita akan terus menemani kita sampai akhirat kelak.

Jakarta, 3 Januari 2015

Advertisements

One thought on “Sekali Berarti, Sudah itu Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s