Tidak ada Foto

Malam itu kami bermalam di perkampungan baduy dalam. Setelah lelah berjalan tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan. Terlebih menempuh perjalanan dalam keadaan hujan.

Hal pertama sekali adalah menganti pakaian basah biar tidak kedinginan. Untuk keperluan MCK semua ada di sungai di belakang perkampungan. Lumayan cukup gelap dan medan berbatu menjadi harus hati-hati karena menjadi licin.

Temen-temen yang tiba lebih awal mungkin lebih merasakan feel kampung ini dengan lebih daripada saya yang datang sudah suasana gelap.

Keramah tamahan tuan rumah sangat terasa sekali, air panas untuk menyeduh kopi atau teh selalu tersedia. Ruang besar rumah ada tempat perapian yang sekaligus tempat memasak. Bila malam hari selain untuk menghangatkan badan juga sambil ngobrol bersama keluarga.

Cahaya selain dari Hawu (baca perapian) ada juga cempor untuk menerangi ruang tengah rumah. Dengan cahaya itulah mereka hidup setiap hari. Saya sendiri ketika akan ke sungai sangat susah sekali karena kondisi gelap dan licin tadi.

Tengah malam terbangun, cukup kaget juga karena cempor dan hawu mati sehingga kondisi ruangan gelap gulita. Suara desir angin dan riak air sungai terdengar jelas.

Setelah sholat subuh, kami melihat wanita badui menuju sungai dengan membawa bambu tempat air dan perkakas yang akan di cuci. Aktivitas mereka dari pagi buta. Hawu kembali mulai dinyalakan lagi untuk menghangatkan badan.

Sidqi sangat tertarik sekali dengan perapian ini. Sesekali meniup kearah hawu ketika api mulai meredup. Sangat menikmati pagi diperapian.

Pagi Aldi dan Pak Jani mengundang ke rumahnya. Alhamdulillah pagi hari disuguhi kopi dengan gula aren menambah hangat pagi. Keluarga ini banyak cerita tentang Jakarta, karena sudah 8 kali ke Jakarta. Hangat mereka menyambut tamu, semua yang ada disuguhkan kepada saya. Mereka sangat memuliakan tamu yang datang, pelajaran yang saya petik dari perjalanan singkat ini. Aktivitas pagi anak perempuan pak jani sambil merajut baju. Sebagian perempuan baduy selain berladang ada juga yang membuat baju.

Karena harus persiapan untuk pulang, saya pamit ke Pak Jani. Sayang interaksi yang singkat saja.

Semoga saya bisa kembali bersilaturahim dengan Keluarga Pak Jani yang luar biasa.

Jakarta. 22 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s