Sepanjang Jalan Dakwah

Sepanjang Jalan Dakwah, Tifatul Sembiringkalau bukan setetes tinta,

takkan kugubah sebait puisi,

kalau bukan karena cinta,

takkan kuungkap kisahku ini.

Pantun pembuka dalam pidato peluncuran buku Sepanjang jalan Dakwah yang dilaksanakan di Gedung Indosat pada Hari Sabtu 7/4. Dalam kesempatan ini Tifatul Sembiring menyorot masalah kebangsaan yang mulai terpecah dengan provokasi-provokasi. Dengan pemberitaan yang seperti ini akan menambah panas, jarang sekali pemberitaan yang menyejukan. “Jangan pernah anda berpikir bisa menyelesaikan masalah bangsa ini sendiri, atau dpt ditangani kelompok anda sendiri. Semua elemen diajak.” demikian ujarnya

Dengan gaya khas berpantun mengajak masayarakat untuk bersama-sama membangun negeri ini “Siapa ingin pergi ke langsa, boleh mencoba mie razali, siapa ingin membangun bangsa, boleh gabung bersama kami…” Seharusnya kita bisa belajar dari sejarah, Seperti Raja Ali Haji yang mengajarkan kepada kita bagaimana adab kita dalam berkomunikasi. Seperti yang tersurat dalam salah satu Gurindam 12 “siapa berkata kasar banyak orang merasa gusar, siapa berkata lembut banyak orang jadi pengikut”. Mengapa justru sebaliknya keadaan sekarang ini.

Di bagian lain Tifatul juga menyoroti tentang pergantian generasi dalam kepemimpinan ke depan. Tahun 2014 di sebut sebagai “The Last Mohichan” artinya menjadi ajang peralihan generasi dari tua kepada genarasi muda. Seperti kita tahu Mohichans adalah satu suku Indian di Amerika. Pergantian generasi ini merupakan sunnatullah,  bagaikan tabiat musim. Daun-daun tua akan menguning, menjadi coklat, lalu gugur satu per satu ke atas permukaan bumi ini. “Watilkal ayyaamu nudaawiluha baynannaas” Demikianlah hari-hari dipergantikan diantara manusia, dan bagi siapa saja yang tidak memahami tabiat alam ini maka akan terlindas oleh Zaman.

“Tolong jangan halangi anak2 muda untuk maju, untuk memimpin negeri ini. Masa depan Indonesia berada ditangan generasi muda kita anak-anak muda harus berani tampil kehadapan, jangan takut jangan ragu. Jangan percaya nasehat ini: Jadi presiden itu harus punya pengalaman.” Ungkapnya kepada publik.

Ada pepatah mengatakan “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Anak-anak muda harus belajar agar pintar, cerdas dan cerdik. Diharapkan anak muda ini harus berani dan menjadi petarung yang heba bagi kemajuan bangsa ini.Petarung adalah seseorang yg jika dipukul jatuh, dia akan bangkit melawan kembali. Jangan jadi pecundang yg belum dipukul sudah jatuh dan tidak bangkit-bangkit  lagi. Karena kita telah mewarisi darah serta jantung. Para pejuang yang telah merebut kemerdekaan ini. Anak muda harus punya karakter, bermoral. Jangan sampai gagal secara karakter.

Di akhir Pidato kembali berpantun “Kata ahli hikmah, mimpi hari ini adalah kenyataan di hari esok. Cuci tangan sampai bersih, cukup sekian dan terimakasih…”

Jakarta, 8 April 2012

Advertisements

3 thoughts on “Sepanjang Jalan Dakwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s