Mengenang Tokoh Sunda Hidayat Suryalaga

Hidayat Suryalaga

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun telah berpulang ke Rahmatullah tokoh budaya Sunda Bapak Drs H.R Hidayat Suryalaga di Bandung pukul 00.02 tanggal 25 Desember 2010. Berita ini dikirimkan oleh seorang teman melalui SMS.

Tatar Sunda kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, seorang yang sangat konsisten dalam mempertahankan budaya Sunda terutama dalam pemakaian basa sunda. Di awal tahun 90-an saya mengenal beliau. Banyak sekali kenangan bersama beliau, bahkan sering kami bermalam di rumah beliau untuk berdiskusi mengenai hal apapun tentang kehidupan.

Terutama ketika Pak Hidayat sedang merampungkan karya tulis Nur HIdayah, terjemahan Al Quran yang di tulis dalam bentuk pupuh dalam bahasa Sunda. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan karya ini tidaklah sebentar 15 Tahun. Dalam perjalan menyelesaikan karya ini kami sering diajak berdiskusi untuk membedah isi dari Al Quran ini.

Saya pribadi bukanlah mahasiswa beliau karena kuliah di Lain Fakultas, namun karena aktifitas dalam hal kesenian sehingga kami berinteraksi dengan Almarhum. Terus terang banyak sekali pelajaran kehidupan yang saya dapatkan dari beliau, terutama dalam hal frame kesundaan.

Riwayat Hidup H. R. Hidayat Suryalaga lahir di Banjarsari, Ciamis, 16 Januari 1941, Keluarga : Ny. Hj. Ritha Margaretha Abdurahman de Vries (istri). Anak: 4 laki-laki dan 2 perempuan. Menamatkan Sekolah Rakyat pada tahuun 1954, melanjutkan ke SGA lulus tahun 1961. Kuliah di FKIP sampai tinggkat III tahun 1954 dan lulus da Fakultas Sastra Unpad tahun 1986.

Karirnya di mulai menjadi guru SR/SD dari tahun 1958-1966, guru SMP tahun 1966-1978 . Dari tahun 1978-1980 menjadi guru SGA, setelah itu menjadi guru SMA dari tahun 1980-1984. Pada Tahun 1986 menjadi Dosen di Fakultas Sastra UNPAD sampai tahun 1998. Dana pada tahun 1992 mulai mengajar juga di UNPAS sampai dengan tahun 2001.

Selain mengajar Pak Hidayat juga produktif menghasilkan buku-buku terutama yang berkaitan dengan budaya sunda. Selain buku juga menulis naskah drama sebanyak 36 naskah dan hampir semuanya sudah dipentaskan . bahkan beberapa kali juga pernah menjadi aktor dalam naskah yang dipentaskan bersama Teater Kiwari.

Buku-buku yang ditulisnya antara lain buku bahan ajaran untu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ada jugabukunya yang isinya bahan ajaran saperti “Étika sarta Tatakrama” (1994), “Wulang Krama” (5 jilid, 1994), “Gending Karesmen & Dramaturgi” (1995), “Kiat Menjadi MC Upacara Adat Sunda” (1996), “Rinéka Budaya Sunda I” (a., 1997), dan Wawacan Lutung Kasarung (1984). Dan masterpiece karya beliau adalah Nur Hidayah, terjemahan Al Quran ke dalam bentuk pupuh.

Selain itu juga belau aktif di beberapa organisasi sosial masyarakat diantaranya : Rédaktur Kalawarta Kudjang (1966-78), Pupuhu YAS (1996-98), Pupuhu Daya Sunda (1994-), Pangurus LBSS (2000-2005), pangadeg/panaséhat Téater Sunda Kiwari (1975-), Panaséhat Yayasan Nur Hidayah (1992-), Pupuhu Lembaga Kabudayaan Unpas (1992-2000), Staf Ahli Kabudayaan Unpas (2000-4), Pangurus Yayasan Daya Budaya Pasundan (2001-04), Panaséhat Padépokan Penca Daya Sunda Panaséha Damas, anggota Bandoeng Tempoe Doeloe.

“Jangan takut untuk hidup duy, apapun kejadian pasti ada hikmah di balik itu semua” itu pesan yang masih tergiang di telinga saya sampai saat ini. Selamat jalan Dosenku yang baik, semoga ilmu yang ditebarkan kepada kami menjadi amal sholeh dihadapan Allah SWT dan menjadi penerang di alam kubur.

Jakarta, 25 Desember 2010

Dudi Iskandar

beberapa sumber dari internet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s