Kang Kumis

Kang kumis, saya sering memanggilnya.Kesehariannya sebagai tukang sol sepatu keliling di sekitar Jakarta Pusat. Profesi ini  sudah jarang dijalani oleh orang bahkan orang yang menggunakan jasanya pun mulai berkurang. Namun beliau tetap menjalani ini untuk menapaki hidup. Saya bertemu saat sedang bekerja di depan kelurahan Pegangsaan. Inti dari pekerjaannya  adalah memperbaiki sepatu yang rusak, namun selain itu juga bisa seperti tas dan lainya.

Assalamu’alaikum kang, kumaha damang?” saya awali percakapan dengan ucapan salam,

Alhamdulillah damang, sawalerna akang kumaha? Nuju naon di dieu tara tisasarina ?” Dia balik bertanya (Alhamdulillah baik, sebaliknya akang bagimana? Sedang apa ada disini tidak seperti biasanya? )

Alhamdulillah sae, nuju ngantosan pun anak sakola kang” (Alhamdulillah baik, sedang nunggu anak sekolah Kang)

Teu wangsul ka lembur kang? Tanyaku(tidak pulang ke Kampung kang?)

Ieu oge puguh nuju milarian kanggo ongkosna (sambil tersenyum ringan), Akang sawalerna iraha ka Bandung? (Justru sekarang ini sedang mencari untuk ongkosnya, Akang kapan pulang ke Bandung? )

Dia balik menanyakan kapan saya akan mudik. “Insya Allah dintenan boboran kang sim abdi wangsul saparantos sholat ied.” (Insya Allah pas Hari Raya saya pulang setelah sholat Ied)

Putra nu ka sabaraha nu nuju sakalo teh Kang?” “Anu kadua kang, nu nomer hiji mah parantos pere”(Anak ke berapa yang sedang sekolah itu Kang ? Yang kedua kang, Yang Nomor satu sudah mula libur)

Akhirnya kami terlibat obrolan ngalor ngidul tentang beberapa hal, dari masalah keluarga sampai masalah korupsi, namun dengan sudut pandang sederhana seorang kang kumis.

Kang Kumis mempunyai seorang istri dan 2 orang anak, sekarang sedang menunggu kelahiran anak yang ketiga, disamping itu juga beliau memelihara 2 orang anak yatim. Istri dan anaknya tinggal di kampung di daerah Garut. Saya merasa malu dengan Kang Kumis, bahwa saya masih sering mengeluh dengan beban hidup yang makin berat. Namun kang kumis terlihat santai dengan beban hidup yang terus meninkat ini. “Yang penting ikhtiar kang, Insya Allah rejeki mah aya wae” Saya mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga sekali dari kang kumis ini.

Beberapa kali saya pernah menggunakan jasa kang kumis, namun ketika telah selesai mengerjakannya, ketika di tanya berapa yang harus saya bayar untuk jasanya, dia selalu tidak mau menyebutkan jumlah nominal atas jasanya itu. “terserah akang saja” begitu selalu jawabnya .

Kalimat ini sepertinya yang membuat kang kumis bisa menerima semua episode kehidupannya. Dari kalimat ini juga bagaimana dia teguh memegang prinsip hidupnya bagaimana cara mencari harta dengan jalan yang halal. Satu pesan yang sangat sederhana namun sangat mendalam sekali. Kearifan Kang Kumis dalam menghadapi kehidupan.

Di balik hiruk pikuk-nya Jakarta, ternyata masih ada kearifan dan kesederhanaan yang bisa di contoh dalam menghadapi tantangan hidup.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga ini dari Episode Kang Kumis.

Note:

Essay ini pernah di post disini

Advertisements

3 thoughts on “Kang Kumis

  1. hem.. tulisan yang luar biasa mas.. sesuatu yang terlihat kecil bisa menjadi luar biasa ketika ditulis, difoto dan dibagikan. Cerita tentang kehidupan yang penuh inspirasi terima kasih telah berbagi mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s